Kartini dan Masyarakat Tionghoa

Kartini dikenal sebagai sosok perempuan ningrat dari Jepara yang punya hubungan dekat penduduk lokal maupun kalangan Eropa (Belanda). Kedekatan ini ditunjukkan melalui surat-surat yang ditujukan kepada mereka dan interaksinya dengan penduduk setempat. Namun, hubungan R.A. Kartini dengan masyarakat Tionghoa pada zaman Hindia Belanda tak banyak dijelaskan di berbagai sumber sejarah kecuali melalui surat-suratnya. Itupun juga tidak banyak. Surat yang ditulisnya mengungkapkan kekagumannya tentang budaya, semangat, dan karya seni masyarakat Tionghoa.

Penyembuh dari Klenteng Welahan.

Widya Mitra Heritage Walk V - 2011

Widya Mitra Heritage Walk V – 2011

Saat menyelenggarakan Widya Mitra Heritage Walk V tahun 2011, yang bertemakan “Jepara: Kultuur en Religie (Leven in een Harmonie)”, kami mengunjungi klenteng yang memiliki keunikan sejarah di kota ini. Dalam percakapan dengan bapak Sugandi, Ketua Yayasan Klenteng Welahan, beliau mengatakan, “Kartini pernah berobat kesini. Sebelumnya beliau menderita sakit demam tinggi dan sudah berobat kemana-mana tapi tidak sembuh. Setelah berobat disini bisa sembuh”. Tidak ada penjelasan penyakit apa yang diderita putri bupati Jepara ini. Cerita ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi komunitas klenteng tersebut. Kartini dianggap telah menjadi ‘Kwee-phang’ (anak angkat) Khong-co Klenteng Welahan. Sejak saat itu beliau menyebut dirinya “anak Buddha” dengan berpegang pada sikap ‘vegetarian’, tidak makan daging apapun dari mahluk hidup lain seperti ajaran (Buddha) di klenteng Welahan. Ungkapan ini menggambarkan kekagumannya terhadap pengobatan tradisional Tionghoa.

Cuplikan tentang pengalaman Kartini menjalani penyembuhan dari Klenteng Welahan ditulis dalam surat yang ditujukan kepada Ny. Abendanon Madri tanggal 27 Oktober 1902:

…….. “Saya seorang anak Buddha, dan diajarkan bahwa kita tidak boleh makan makanan hewani. Ketika saya masih kecil, saya sakit berat. Para dokter tidak mampu menyembuhkan saya, mereka juga tidak punya harapan apa pun. Kemudian seorang Tionghoa, yang telah bersahabat dengan kami, memohon agar diizinkan membantu saya. Orang tua saya setuju, dan sayapun disembuhkan. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh kaum terpelajar bisa dilakukan dengan “perdukunan”. Dia menyembuhkanku secara sederhana dengan memberi saya abu sesaji untuk diminum dari pembakaran yang biasa dipersembahkan untuk arca Tionghoa. Dengan meminum ramuan itu, saya menjadi anak religius Tionghoa, Santik-Kong dari Welahan. Setahun yang lalu kami berkunjung ke tempat suci itu. Ada gambar kecil warna emas menyertai dupa yang dibakar siang dan malam. Pada saat epidemi, dupa itu dibawa berkeliling desa untuk mengusir roh jahat. Hari kelahiran orang suci biasanya dirayakan secara luar biasa dan orang Tionghoa datang dari tempat yang jauh dan dekat. Penduduk Tionghoa kuno telah memberi tahu kami legenda pusaka emas itu, yang membuat mereka benar-benar hidup.” 

Perempuan Tionghoa dan Pendidikan Guru

HCK Batavia

HCK Batavia

Dalam salah satu surat yang dikirimkan kepada nyonya Hilda G. de Booij tertanggal 17 Juni 1902, Kartini menyebut tentang beberapa anak perempuan Tionghoa yang mengajukan permohonan agar diperbolehkan menempuh ujian guru.

Informasi tentang ini diperolehnya dari surat kabar. Tak disebutkan apa nama surat kabar yang telah dibaca namun beliau pernah menulis di beberapa media cetak seperti De  Locomotief (Semarang), majalah De Gids, dan lain-lain. Sedangkan nama sekolahnya juga tidak disebut meski sekolah untuk anak Tionghoa sudah ada saat itu. Kartini mengungkapkan rasa bangga kepada para perempuan tersebut mengingat mereka telah berjuang melawan adat setempat yang sudah lama dipertahankan secara turun temurun. Sebenarnya nasib perempuan Tionghoa pada zaman itu hampir sama dengan perempuan Jawa. Mereka terkekang adat setempat. Ini jelas membatasi ruang gerak kaum perempuan Tionghoa untuk berkarya salah satunya di dunia pendidikan. Meskipun beliau belum bertemu dengan mereka, tapi perjuangan mereka ini juga menginspirasi, memberi semangat dan harapan tentang bagaimana menghadapi adat serupa yang membelenggu kaum perempuan dalam dunia pendidikan. Berikut ini cuplikan isi suratnya :

……. Di surat kabar baru saja saya baca bahwa beberapa anak perempuan Tionghoa mengajukan  permohonan agar mereka diperbolehkan ikut menempuh ujian guru. Horeee! Untuk kemajuan! Saya sungguh gembira tentang hal itu. Orang-orang Tionghoa sangat keras dalam mempertahankan adat, dan sekarang kita lihat juga bahwa adat yang paling keras dan paling tua dapat dipatahkan juga.  Saya mendapat semangat dan harapan. Ingin benar saya berkenalan dengan anak-anak Tionghoa yang berani itu. Ingin sekali saya tahu pikiran, cita-cita dan perasaan mereka, jiwa mereka. Selamanya saya ingin mempunyai teman orang Tionghoa. Pasti banyak keindahannya. Sudah pernahkah nyonya menghadiri perkawinan Tionghoa? Saya satu kali, dan saya tidak akan melupakannya.

Istana Oei Tiong Ham

Taman Bale Kambang

Taman Bale Kambang (KITLV)

Sebagai seorang perempuan yang dibesarkan dalam kehidupan feodal yang serba tertutup, Kartini ternyata senang dengan keindahan. Ini ditunjukkan dengan ketertarikannya pada seni kerajinan ukir Jepara yang terkenal dengan macan kurung, batik, wayang, dan gamelan. Tak hanya tertarik pada kesenian tersebut, beliau juga melestarikannya. Di sisi lain, Kartini juga mengagumi karya seni dari luar budaya Jawa, salah satunya adalah Tionghoa. Ini disampaikannya ketika berada di kota Semarang. Salah satu tempat yang paling berkesan baginya adalah Taman Bale Kambang milik jutawan Oei Tiong Ham.  Sebenarnya area tersebut merupakan kompleks yang setidaknya punya empat sebutan, yakni Gedong Gergaji, Istana Oei Tiong Ham, Kebon Rojo, dan Bale Kambang. Nama terakhir hingga kini masih dipakai sebagai nama perkampungan di bekas lahan milik Oei Tiong Ham. Kompleks yang luasnya sekitar 81 hektar ini terdiri dari rumah, kebun, dan beberapa bukit kecil. Dari perbukitan di taman, terlihat pemandangan kota bawah Semarang. Terdapat pula gua-gua dan ratusan patung yang didatangkan dari Tiongkok, gunung buatan dari batu karang, serta area khusus untuk pemain musik. Berbatasan dengan kompleks istana, membentang tanah miliknya sepanjang Oei Tiong Ham weg (Jalan Pahlawan sekarang), terus ke daerah Pandanaran, sampai Randusari. Di antara kebun bunga dan kolam-kolam ikan, dibangun gazebo di salah satu permukaan yang tinggi untuk pengunjung yang ingin beristirahat. Dari sinilah asal nama lain tempat ini, Bale Kambang, yakni dari “bale” (tempat) dan “kambang” (mengambang di atas air).

WMHW 2012 Smg ManiseSaat mengadakan Widya Mitra Heritage Walk 2012 lalu yang bertema “Semarang Manise: De Macht van Suiker”, kami mengunjungi rumah, di Jl. Kiai Saleh, yang dulu dihuni oleh sang Raja Gula, Oei Tiong Ham. Rumah yang sering disebut istana ini merupakan bangunan bergaya Eropa yang indah. Sang jutawan tak memperindah istananya dengan gaya arsitektur Tiongkok seperti layaknya orang-orang Tionghoa kaya pada waktu itu. Dia tetap mempertahankan arsitektur kolonial, bangunan besar dengan kolom-kolom besar di teras, pintu, jendela, dan langit-langit tinggi, juga pintu gerbang indah dari besi. Namun untuk meraba gambarannya seperti tempo dulu sudah sulit sebab beberapa bagian dalam rumah banyak yang berubah dan taman Bale Kambang yang dulu pernah menjadi landmark kota Semarang zaman Hindia Belanda, telah berubah menjadi perkampungan.

Kekaguman Kartini akan keindahan Taman Balekambang tercantum pada cuplikan surat yang dikirimkan kepada Ny. Abendanon-Mandri tanggal 3 Januari dan 27 Oktober 1902 :

……. Di Semarang kami melihat sesuatu yang benar-benar indah: taman bergaya Tionghoa milik kepala komunitas Tionghoa. Awalnya kami tidak memiliki keinginan untuk pergi kesana tetapi saudara kami telah mengatur sekelumit perjalanan ini. Bocah laki-laki tersayang itu begitu bersemangat mengajak kami bersamanya, telah memikirkan segalanya untuk membuat kami bahagia dan menikmatinya  dengan mengenakan pakaian saudarinya yang tidak tahu terima kasih. Jadi kami pergi bersamanya. Itu adalah perjalanan yang menyenangkan di sana. Kebun-kebun dan rumah indah milik jutawan ini terletak di atas bukit. Di sana udaranya sejuk dan menyenangkan. Rumah indah itu kosong, itu adalah daerah tempat tinggalnya dan pemiliknya sedang bepergian ke Hong Kong di kapal pesiarnya sendiri. Tamannya terbuka untuk umum dan rumah juga dapat dikunjungi sesuai permintaan. Kami hampir tidak percaya pada pandangan mata kami ketika memasuki taman bernuansa magis ini. Didalamnya berisi banyak struktur batu yang disusun secara artistik. Yang mendesain taman ini pasti seorang jenius. Keindahannya bagai inspirasi sebuah puisi dan karya seorang seniman yang bijak. Kami belum pernah melihat sesuatu yang begitu indah dan tidak percaya bahwa sesuatu yang begitu indah itu bisa ada. Ini bagaikan kehidupan dalam kisah dongeng, hanya kurcaci dan peri yang muncul dari celah-celah dan gua-gua di bebatuan, benar-benar sebuah sebuah dongeng. Batuannya dibuat secara realistis dari batu karang yang di semen. Di celah-celahnya, ada pakis dan tanaman lain yang tumbuh di antara bebatuan dan masing-masing menggambarkan miniatur pepohonan yang berbuah atau beberapa tanaman yang berbunga. Di tengah-tengah taman ada sebuah kuil kecil yang berdiri di tengah-tengah pahatan kolam, indah sekali, ikan-ikan berenang di air yang mengalir. Di samping kuil adalah sebuah bukit kecil, juga terbuat dari batu, ditanami pakis, tanaman berbunga dan miniaturnya, ada pohon-pohon yang berbuah. Di dalamnya ada sebuah gua, melalui tangga, saat naik ke atas seseorang menemukan sebuah rumah dan miniatur kuil. Bagaimana saya harus memulai dan di mana saya harus mengakhiri semua yang kami lihat di sana? Dari taman itu, seseorang bisa mendaki bukit, kali ini benar-benar nyata, ada taman yang luar biasa, tetapi kami tidak sampai ke taman itu, dengan kaki yang terluka saya tidak dapat mendaki sejauh itu. Pada salah satu jalan sampailah pada bangunan lain dengan atap yang dihiasi daun dan bunga, dan jalannya ditumbuhi rerumputan yang tertiup angin dengan patung-patung bercorak Tionghoa. Kolam, bebatuan, tanaman yang berbunga, semua jenis tanaman, miniatur pohon berbuah – kita membayangkan di tengah-tengah semua ini, ada putri Tionghoa berpakaian indah berwarna krem – layaknya boneka yang indah dan cantik bagaikan kupu-kupu yang berkilau, penuh warna yang berkeliaran di surga. Di sisi lain, kebun juga dibatasi sebuah bukit yang ditanami bambu. Secara keseluruhan itu bagaikan puisi yang sesungguhnya. Bagaikan bulan purnama dan kami melihat bulan di atas ketika kami berada di sana. Inilah surga. Hanya kesibukan saja yang menjauhkan kita dari surga kecil ini. Kami masih “sakit hati” bahwa adik kami tidak bisa berbagi pengalaman yang indah ini.”

Sumber :

KARTINI, The Complete Writings 1898-1907, Joost Cote (edited), Monash University Publishing, 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *