Hotel Du Pavillon : Sisi lain sejarah Hotel Dibya Puri

Hotel Dibya Puri 1b JPG

Dalam dunia pariwisata, hotel memegang peranan penting sebagai salah satu sarana untuk menarik wisatawan berkunjung ke suatu wilayah. Semakin bervariasinya hotel bisa menunjukkan semakin besarnya potensi wilayah tersebut untuk dikunjungi. Hal ini juga berlaku bagi kota Semarang di era kolonial Belanda.

Hotel Du Pavillon adalah salah satu hotel termewah di kota ini pada awal abad ke 20. Hotel ini dibangun pada tahun 1847, namun direnovasi kembali secara besar-besaran tahun 1913. Hal ini dilakukan untuk menyambut tamu-tamu yang akan menghadiri perhelatan Koloniale Tentoonstelling tahun 1914, sebuah pameran yang dianggap terbesar di Asia Tenggara saat itu.  Dalam renovasi ini, bangunannya mulai dilengkapi jaringan listrik yang memadai dengan pemasangan lampu-lampu yang indah dan modern. Sanitary juga sudah memanfaatkan metode sanitary yang sehat, sampai dengan melengkapi kamar mandi pribadi di setiap kamar. Pada bangunan baru disampingnya, ditambahkan 50 kamar tidur. Kamar tidur di desain luas dan nyaman serta dilengkapi sejumlah meubel mewah. Ruang makannya terdapat tempat duduk yang mampu menampung 150 orang. Selama makan malam disediakan life musik yang menampilkan band-band terkemuka. Manajeman hotel diatur berdasarkan standar internasional bahkan koki utama hotel berasal dari Eropa. Seluruh anggota staffnya berjumlah 18 orang dan jumlah pelayan lokal ada 80 orang.

Renovasi  hotel ini memakan biaya ƒ 250.000. sedangkan modal perusahaan berjumlah  ƒ 365.000, – Para direkturnya diantaranya Mr. SJ Bergsma, Mr. A. Wilkens, dan Mr C. Soesman. Sedangkan jabatan manajer dipegang oleh  Mr G.A. van de Peppel. Mr.  Peppel adalah seorang manajer yang selama beberapa tahun menangani hotel di London dan Paris.

Sebagaimana layaknya hotel pada masa sekarang, pelayanan transportasi untuk para tamu tak bisa diabaikan. Pihak hotel menyediakan 80 ekor kuda dengan 50 gerbong kereta kuda. Disamping itu juga disediakan 12 mobil yang disimpan dalam garasi. Mobil-mpbil ini juga dapat  disewakan pada para tamu yang ingin bepergian. Hotel mewah nan nyaman ini letaknya sangat dekat dari kantor pos dan di pusat kota yang saat itu berada di kawasan kota lama.. Hal ini bisa dimengerti mengingat kantor pos merupakan sarana komunikasi yang terpenting pada masa itu. Juga lokasi hotel tidak jauh dari Stasiun Tawang sehingga wisatawan dapat langsung menuju hotel tersebut karena letaknya cukup dekat.

Sayangnya hotel yang juga pernah menjadi saksi sejarah Pertempuran Lima Hari Semarang tersebut makin hari makin tidak terawat. Kerusakan sudah muncul disana-sini. Beberapa bagian bangunan sudah roboh karena konstruksinya yang makin melemah dimakan usia. Padahal interior bangunan ini memiliki nilai artistik yang tinggi. Disamping itu Hotel Dibya Puri berdasarkan UU No 11 Tahun 2009 dinyatakan sebagai cagar budaya yang harus dikonservasi. Hal ini sungguh berbeda dengan nasib hotel Majapahit (dulu hotel Oranje) yang pernah menyimpan sejarah peristiwa heroik tahun 1945. Tahun 1980an, manajemen hotel ini dikelola oleh Mandarin Hotel Group yang kemudian berubah nama menjadi Hotel Mandarin Oriental, salah satu hotel berbintang 5 di Surabaya. Lalu mengapa hotel Dibya Puri nasibnya beda?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *