Sebuah Kolaborasi Musisi Belanda dan Komponis Indonesia.

Kantjil Resital, Senin, 27 April 2015

Doris Hochscheid (cello), Frans van Ruth (pianis), dan Gema Swaratyagita (narasi/pagelaran)

di Hall International Brain Academy Semarang.

Resital Kantjil 1

Selama ini jarang sekali diadakan konser kolaborasi antara seniman Indonesia maupun Belanda. Setelah penampilan Histoire du Soldat dan Leine Roebana (Ghost Track) beberapa tahun lalu, belum ada konser yang menggagas konsep ini di Semarang.

Kantjil Resital membuka kembali konsep ini yaitu menampilkan musisi klasik Belanda Doris Hochscheid (cello), Frans van Ruth (pianis) dengan memainkan berbagai komposisi karya komponis Indonesia. Doris dan Frans adalah pendiri ‘Stichting Cellosonate Nederland’ (Yayasan Sonata Cello Belanda; www.cellosonate.nl). Cellosonate Nederland tahun 2007 yang bertujuan untuk mempromosikan repertoar musik kamar Belanda untuk cello dan piano, dan kualitas musik yang luar biasa. Kegiatan yayasan tersebut termasuk: menciptakan katalog online komposisi Belanda untuk cello dan piano yang lengkap; mengintegrasikan setidaknya satu komposisi Belanda di setiap program konser yang the duo tampilkan; mengatur serangkaian musik kamar di Konservatori Amsterdam yang mana di dalamnya karya-karya musik kamar Belanda ditampilkan bersama dengan mahasiswa master; dan sebuah proyek cd yang luas dari 6 cd, “Dutch Cello Sonatas 1900-1950”, bekerja sama dengan Musikproduktion Dabringhaus und Grimm (MDG), sehingga mendokumentasikan musik Belanda untuk violoncello dan piano.

Diantara komposisi Indonesia yang ditampilkan adalah  karya Gatot Danar Sulistiyanto (1980) – Ilalang untuk cello dan piano (2015) dan Iwan Gunawan (1974) – Kan Dhang An untuk piano dan cello (2015).

Setelah jeda, ditampilkan komposisi dengan tema Kisah kancil: hari ulang tahun Si Harimau Tua. Sedangkan narasi dibacakan oleh Gema Swaratyagita, seniman dari Surabaya. Beberapa diantaranya karya komponis Sinta Wullur (1958) – Bihaq (2012), Roderik de Man (1941) – Annotatioze Eventuali (2012), Claudia Rumondor – Santai (2012), Guus Janssen (1951) – 3 fratsen (2012), Mathias Kadar (1977) – Deux petites histoires (2012), dan Joey Roukens (1982) – Ritje (2012).

Bagi sebagian penonton, resital ini mungkin terasa agak berat di telinga, sekalipun karya yang ditampilkan merupakan karya komponis Indonesia yang dikemas dengan judul yang mirip cerita anak. Namun menyaksikan konser ini sesungguhnya bagai menikmati kolaborasi karya seni yang bernuansa kontemporer. Penonton juga diajak untuk menjelajahi karya seni perpaduan antara opera, dongeng, dan keragaman dua budaya yaitu Belanda dan Indonesia. Setidaknya, konser dengan produser eksekutif Piet Hein ini, telah membuka cakrawala baru bagi sebagian penikmat musik klasik tentang kerjasama budaya kedua negara.