Fleksibilitas bermusik ala Teguh Sukaryo

Chamber Music Tour, 10 Juni 2015

Teguh Sukaryo (Pianis), Sietse-Jan Weijenberg (Cello) dan Byrd Siripong Tiptan (Biola).

di Hall International Brain Academy Semarang.

chamber 1

Sosok Teguh Sukaryo, memang belum banyak orang kecuali bagi para sesama pianis ternama di tanah air. Pianis berbakat ini lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, tahun 1977. Belajar bermain piano di Royal Musik Purwokerto. Selanjutnya, menyelesaikan pendidikan Strata-1 ditahun 1998, pada bidang Piano Performance di Newcastle Conservatorium of Music, Australia. Disana ia mengambil Double Performance Stranddan selalu mendapat nilai tertinggi, ‘High Distinction’.

Dikenal memiliki kemampuan artistry tinggi dan teknik yang handal, Teguh memperoleh beasiswa penuh dan berbagai penghargaan untuk melanjutkan seluruh studinya di USA, seperti di sekolah-sekolah terkemuka: Oberlin Conservatory, yang mana dia mendapat gelar Artist Diploma; Rice University/Shepherd School of Music, Master of Music; and Louisiana State University, tempat Teguh sedang menyelesaikan gelar Doktoralnya (DMA, Doctorate of Musical Arts).

Tahun 1997, Teguh memperoleh Top Prize di Armidale Open Piano Competition, NSW, Australia; Tahun 2000, Chamber Music Scholarship and award di Sewanee Summer Music Festival, USA; Tahun 2005, “Beethoven Prize” di Grieg International Competition for Pianists, di Oslo.

Teguh Sukaryo belajar dengan pianist kenamaan dan guru besar di Amerika, Eropa dan Australia, antara lain Jon Kimura Parker, Peter Takacs, Michael Gurt, and Carmel Lutton. Teguh juga dilatih oleh pianist legendaris Byron Janis dan Einar Steen-Nokleberg. Selain dibidang piano, Teguh juga menekuni dunia conducting. Guru-gurunya antara lain Prof. Paul Polivnick, Prof. Anton Krager, dan Prof. Frank Wickes.

Pada malam itu dia tampil bersama pebiola Byrd Siripong Tiptan (Thailand) dan cellis Sietje-Jan Weijenberg (Belanda). Publik Semarang memang jarang menyaksikan trio di panggung pertunjukan. Kelompok  ini terbentuk dari personel yang tersebar di 3 negara berbeda. Teguh Sukaryo membina sekolah musik di Jakarta, Byrd Siripong Tiptan adalah concert master di Bangkok Symphony Orchestra dan dia juga pebiola yang terkenal di Thailand, sedang Sietje-Jan Weijenberg adalah seorang principal cellis di banyak orkes di Belanda di antaranya Concergebouw Orchestra dan Nederlands Kamerorkest.

Konser dibuka melalui karya Spiegel im Spiegel dari Arvo Pärt yang membius. Penonton dibawa dalam alur melodi sederhana yang saling bertanya jawab antara biola Siripong dan cello Weijenberg. Sukaryo sendiri mengiringi dengan formasi yang syahdu. Sesekali memang terasa Sukaryo ingin membawa musik berjalan lebih cepat, namun Siripong dan Weijenberg mampu mempertahankan ketenangan karya ini.

Menapaki komposisi demi komposisi,  Siripong dan Weijenberg bergantian memainkan nomor solo diiringi permainan piano Teguh Sukaryo. Permainan Siripong yang cemerlang, berpadu dengan kehangatan dari Weijenberg serta dukungan iringan piano yang bercitarasa dari Sukaryo. Penonton pun tentu akan menyangka para pemusik ini telah bekerja sama sedemikian lama sehingga mampu menghasilkan karya yang solid. Namun sesungguhnya trio ini baru dibentuk beberapa minggu sebelum tur konser karena Iskandar Wijaya mendadak tak bisa tampil sehingga digantikan Byrd Siripong. Meskipun begitu, trio ini seakan terasa sudah lama bekerja sama. Fleksibilitas mereka dalam bermusik memang luar biasa. Karya demi karya pun tersaji apa adanya dan mampu meyakinkan penonton. Di sisi lain, kerendahan hati dan kesederhanaan Teguh Sukaryo ikut memberi nuansa tersendiri dalam mengiringi Siripong dan Weijenberg yang melodius.

Menyaksikan resital ini sama sekali tidak terasa berat di telinga penonton bahkan bisa dibilang sangat indah, meskipun karya yang ditampilkan adalah musik-musik klasik yang serius. Mereka menyudahi konser dengan dua buah komposisi karya dari Astor Piazzolla dari Argentina sebagai encore, Oblivion dan Muerte del Angel. Dan penontonpun tak terasa bahwa konser mulai berakhir.