Warisan Budaya dan Masyarakatnya

Catatan kecil akhir tahun 2015.

(Widya Mitra Heritage Walk IX 2015; Tembakau: Jalan Panjang Menggulung Asa).

Foto WMHW IX aDari delapan kali menyelengarakan Widya Mitra Heritage Walk, acara tahun ini termasuk yang sangat berkesan. Meskipun minus diskusi seperti halnya WMHW sebelumnya, sebagian besar peserta merasa surprise dengan keunikan obyek dan keramahan masyarakat.

Obyek pertama adalah Gedung Mataram 360 yang saat ini juga dipakai sebagai kantor Widya Mitra dan toko souvenir Semarak adalah salah satu bangunan bersejarah  di kota Semarang. Pada awalnya bangunan ini dimanfaatkan sebagai toko untuk menjual tembakau. Dari sinilah Ong Tjwie Tien mendirikan pabrik rokok kretek dengan merek “Tjap Pompa” dan “Tjap Oepet Tambang” yang pernah terkenal di kota Semarang. Ong Tjwie Tien sendiri adalah kakek dari Dr. Teguh Rahardjo. Dr. Teguh sendiri menceritakan sejarah berdirinya pabrik rokok legendaris tersebut disertai tampilan foto-foto tempo doeloe. Di akhir cerita beliau mengatakan bahwa meskipun ramuan tembakau merupakan rahasia perusahaan, namun tetap memakai salah satu jenis tembakau khusus dari Temanggung.

Obyek ke dua yang dikunjungi adalah pabrik cerutu Rizona yang terletak di Jl. Diponegoro Temanggung. Pabrik cerutu ini adalah satu-satunya pabrik cerutu di Temanggung. Menurut penuturan Bapak Rahardjo, salah seorang karyawan senior, pabrik ini didirikan tahun 1937. Pada awalnya konsumen Rizona adalah orang-orang Belanda yang tinggal di Temanggung. Pasca kemerdekaan, produksinya sempat menurun karena tergeser oleh rokok kretek. Namun, pabrik ini pernah mengalami masa kejayaan dimana produknya sempat diekspor ke Taiwan dan Hongkong.  Sayangnya kejayaan ini tak berlangsung lama. Saat ini sebagian besar produknya dipasarkan di Jawa Barat (Bandung dan Jakarta).  Meskipun Temanggung  merupakan penghasil tembakau terbaik di negeri ini, namun cerutu Rizona tidak memanfaatkan tembakau dari Sumbing – Sindoro karena tembakaunya  terlalu tebal dengan tulang daun yang kekar sehingga akan patah dan sobek ketika digulung.  Bahan bakunya justru tembakau dari Klaten dan Jember. Saat ini karyawan pabriknya tinggal 26 orang. Padahal pada masa kejayaannya, sempat mempekerjakan sekitar 300 karyawan.

Obyek ke tiga adalah desa  Losari, Kecamatan Tlogomulyo.  Desa yang terletak pada 800 meter di atas permukaan laut ini terkenal dengan produksi tembakau Srintil. Tembakau ini disinyalir merupakan salah satu tembakau yang terbaik di Temanggung bahkan di dunia. Sebagian besar pabrik rokok di Jawa menjadikan tembakau jenis ini sebagai salah satu bahan bakunya. Proses produksi tembakau srintil tergolong cukup unik. Setelah tembakau di panen, dilakukan pemeraman untuk menghasilkan tembakau khusus. Proses ini membutuhkan waktu sampai tembakau benar-benar  berubah warna dari hijau muda menjadi coklat tua. Setelah itu baru dilakukan penjemuran supaya tembakau menjadi kering. Mengingat tembakau ini memiliki aroma harum dan pekat, pemanfaatannya hanya sebagai bahan campuran dengan tembakau jenis lain karena kandungan nikotinnya sangat tinggi. Meskipun kandungan nikotinnya sangat tinggi, harga tembakau ini terbilang sangat mahal. Satu keranjang tembakau srintil kualitas bagus harganya bisa mencapai 50 juta. Per kilonya saja bisa 750 ribu. Tak heran jika warga disana menikmati berkah dan rejeki tersendiri dari hasil ini.  Keunikan lain dari desa ini adalah keramahan masyarakatnya dalam menerima kunjungan kami. Mereka mengajak peserta WMHW untuk rehat sejenak di rumah sambil menikmati minuman dan aneka jajanan yang telah disediakan. Suasana ini mampu membuang lelah setelah sekitar satu jam menyusuri jalan yang mendaki.

Obyek terakhir adalah Situs Liyangan. Situs ini terletak sekitar 20 km  sebelah Timur Laut Kota Temanggung di dukuh Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Posisi situs ini berada pada ketinggian 1.174 m  di lereng Timur Laut gunung Sindoro. Berdasarkan peninggalan yang ada, situs ini memiliki karakter yang unik yaitu bentuk bangunannya yang sederhana, dengan yoni berbentuk persegi panjang yang memiliki tiga lubang lingga. Bentuk ini dianggap sebagai suatu ciri khas Yoni Temanggung. Pada situs ini juga terdapat sebaran temuan lain yang cukup banyak dan sebagian masih terpendam di dalam tanah sehingga memberikan gambaran betapa besar kekayaan arkeologisnya. Saat ditemukan tahun 2008,  berawal dari penemuan talud, yoni, arca, dan batu-batu candi yang letaknya tidak beraturan. Selanjutnya ditemukan yoni dan struktur bangunan candi di sawah dan ladang penduduk di sekitar situs tersebut. Ada juga beberapa temuan lepas yang terkumpul berupa komponen struktur candi, sisa-sisa alat rumah tangga, patung-patung, struktur sawah kuno, dan sisa-sisa kegiatan manusia yang lokasi penemuannya menyebar dan berjauhan.  Sebagian temuan itu disimpan di kantor BPCB Yogyakarta. Kelak jika museum selesai dibangun, artefak-artefak tersebut akan dikembalikan. Hal yang menarik adalah penemuan yoni yang memiliki tiga buah lubang. Struktur bangunan candi yang tampak dari bagian dasar hingga selasar berukuran 5 x 5 m2 menghadap Tenggara. Berdasarkan data ini, kemungkinan bangunan tersebut menghadap pada satu bangunan yang mengarah ke Timur atau Barat sebagaimana candi dalam agama Hindu. Pada lokasi lain, pernah ditemukan struktur bangunan berbahan kayu dan ijuk yang telah terbakar mungkin akibat tertimbun aliran lahar dari letusan gunung Sindoro. Temuan ini diperkirakan sebuah bangunan rumah panggung.  Beberapa temuan ini mengindikasikan adanya suatu perkampungan atau pemukiman penduduk pada jaman kuno.

Secara umum acara yang diselenggarakan pada 24 Oktober 2015 ini membawa kesan tersendiri bagi 33 orang peserta.  Mereka merasakan nuansa yang berbeda yakni obyeknya yang unik dan adanya interaksi dengan masyarakat sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *