SUTRADARA FILM DOKUMENTER DAN TANGGUNG JAWAB MORALNYA

WM-Tonny 1Bincang Santai dengan Tonny Trimarsanto, sutradara film dokumenter  peraih Best Short Asia Film at 9th Cinemanila International Film Festival 2007 di Philipina dan Winner Best Film at Culture Unplugged International Film Festival 2009 di India.

Berdiskusi dengan sutradara yang tinggal di Klaten ini memang menarik. Pembawaannya kalem dan rendah hati, padahal beliau seorang sutradara film dokumenter yang handal. Beberapa film dokumenter sudah diproduksinya. Salah satu film yang dalam proses post production adalah “Doa Terakhir”, sebuah film dokumenter yang mengisahkan tentang seorang arsitek Belanda Herman Thomas Karsten dari sisi kemanusiaannya. ” Karsten dikenal sebagai arsitek yang merancang beberapa gedung dan landskap seperti kota Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Solo, Magelang, Yogyakarta, Malang, dan lain-lain.

Meskipun saat ini menekuni dunia film dokumenter, Tonny juga pernah terlibat dalam pembuatan film yang disutradarai oleh Garin Nugroho diantaranya “Daun Di Atas Bantal” (1998), “Dongeng Kancil tentang Kemerdekan” (1999), dan “Puisi Tak Terkuburkan” (2000). Film “Puisi Tak Terkuburkan” pernah diputar di Gd. Sumarman Undip Semarang, hasil kerjasama Widya Mitra dan Kronik Kine Klub Undip.  Pada setiap film tersebut, beliau menceritakan secara gamblang kesulitan dan keunikannya. Tentunya perjalanan karir sebagai mantan murid Garin telah menjadi pengalaman sangat berharga baginya dalam memproduksi film. Meskipun beberapa kali terlibat dalam film fiksi produksi Garin, pada film dokumenterlah pilihannya dilabuhkan terutama sebagai sutradara. Saat saya menyinggung hebohnya film “Senyap”, beliau justru mengkritisinya. Ada perbedaan besar sutradara film fiksi dan dokumenter. Hal ini terfokus pada hubungannya dengan subyek atau pemain film. Hubungan antara sutradara film fiksi dan pemainnya cenderung pada aspek ekonomi. Pemain dapat “dipaksa” untuk melakoni adegan sesuai keinginan sutradara karena mereka dibayar. Namun hal ini tidak terjadi pada film dokumenter. Meski begitu, ada tanggung jawab moral bagi sutradara film ini jika filmya beredar. Film “Renita, Renita” contohnya, sebelum diedarkan, dilakukan komunikasi intensif dengan Komnas HAM supaya tokoh utama mendapat perlindungan jika terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki. Saat film diedarkan, harapan itu terlaksana.  Hal ini berbeda dengan “Senyap” dimana tokoh Adi terpaksa harus hidup berpindah-pindah tempat karena ancaman kelompok tertentu.

Mantan anak didik Garin Nugroho ini juga telah menorehkan prestasi tersendiri dalam film dokumenter berjudul “Renita, Renita”. Film ini mengisahkan tentang kehidupan seorang transgender di Aceh yang mengalami banyak diskriminasi di daerahnya. Kerja kerasnya dalam membesut film ini membuahkan hasil yaitu  Best Short Asia Film at 9th Cinemanila International Film Festival 2007 di Philipina dan Winner Best Film at Culture Unplugged International Film Festival 2009 di India. Saat festival film tahunan di India ini, film “Renita, Renita” termasuk yang  paling banyak ditonton. Implikasinya banyak festival film dunia yang memutar film ini sebut saja, 10th Amnesty International Fim Festival Amsterdam tahun 2008, Inside Out Film Festival Toronto Canada tahun 2008, dan Roma Gay Lesbian Film Festival Italy tahun 2008. Tak hanya itu saja, film ini juga diikutkan pada JAFF Asia Netpac Film Festival 2007, 4th CONCAN Tokyo Film Festival 2007 (masuk 4 besar), DOCNZ New Zealand International Fim Festival 2007, Official Selection 20th Singapore International Film Festival 2007, dll. Sampai saat ini film tersebut telah diputar di lebih dari 20 festival film internasional. Bahkan sering dijadikan bahan kajian jender di forum diskusi dan seminar termasuk juga sebagai materi kuliah pada jurusan ilmu-ilmu sosial dan psikologi.

Menurut sutradara yang pernah menjadi juri Metro TV Eagle Award Documentary Festival ini, ketika membuat film, si pembuat harus sadar akan kekuatan dan potensi film yang dimilikinya. Sadar pada aspek artistik, mampu membaca segmen mana film itu dimanfaatkan, serta mampu memberi keutamaan dan nilai. Ketika kita sadar pada kekuatan filmnya, maka jalan menuju festival bisa dirancang. Jika sudah lolos ke festival film, maka akan membuka jalan ke festival berikutnya. Programmer festival akan terus mencari karya kita. Inilah yang mendorong dan menantang kita untuk terus berkarya. Intinya kita jangan berhenti berkarya.

Film list:

  • Di Ujung Jalan (2010)
  • In The Shadow Of The Flag (2007)
  • Renita, Renita (2006)
  • Kitorang Pu Mama (2005)
  • Air Mata Ibu (Mother’s Tears) (2004)
  • Hanna Rambe (2004)
  • Sapardi Djoko Damono: Aku Ingin (2004)
  • Secercah Harapan (2004)
  • Hutanku Hilang Dalam Satu Menit (2003)
  • Roedjito (2003)
  • Gerabah Plastik (2002)
  • Satu Nusa (2002)
  • Tanah Impian (The Dream Land) (2002)
  • Adung Sahabatku (2001)
  • Tenunku Seperti Pelangi (2001)

Awards:

  • Best Film at Festival Film Dokumenter 2002 in Yogyakarta, Indonesia for GERABAH PLASTIK
  • Selected for the New Asian Currents Special section at the 2003 Yamagata International Documentary Film Festival in Yamagata, Japan for TANAH IMPIAN
  • Selected for In Competition section at the 2003 Jakarta International Film Festival in Jakarta, Indonesia for TANAH IMPIAN
  • Prize for Excellence at the 12th Earth Vision Global Environment Documentary Film Festival 2003 in Tokyo, Japan for TANAH IMPIAN
  • Selected for In Competition section at the 13th Earth Vision Global Environment Documentary Film Festival in Tokyo, Japan for I LOST MY FOREST IN ONE MINUTES
  • Selected for In Competition section at the 2006 Slingshort Film Festival in Jakarta, Indonesia for RENITA RENITA
  • Selected for In Competition section at Festival Film Pendek Konfiden 2006 in Jakarta, Indonesia for RENITA RENITA
  • Selected for In Competition section at the 4th CON-CAN Movie Festival 2007 in Tokyo, Japan for RENITA RENITA
  • Best Short Asia Film at the 9th Cinemanila International Film Festival 2007 in Philippines for RENITA RENITA
  • Popular Film (Runner Up) at 2009 Culture Unplugged Film Festival in India for RENITA RENITA
  • Selected for In Competition section at the 12th Cinemanila International Film Festival 2010 in Philippines for DI UJUNG JALAN

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *