Memahami Warisan Budaya Melalui Komik

Foto 1

Catatan kecil akhir tahun 2015

Talkshow Komik bersama Peter van Dongen

Menjadi seorang komikus itu tak sakadar menorehkan karya berupa gambar dan tulisan melainkan memberikan gaya dan makna tersendiri.  Inilah yang membentuk ciri tersendiri dari masing-masing komikus.

Seorang komikus Belanda, Peter van Dongen, telah menunjukkannya betapa gaya dan makna mampu mengangkat karyanya tak hanya di negeri Belanda tetapi juga di Indonesia. Dua hal tersebut selain unik juga informatif terutama jika dikaitkan dengan aspek historisnya. Ini ditunjukkan dengan dua komik besutannya yaitu Rampokan Jawa dan Celebes. Pada kedua cerita bergambar tersebut kental sekali nuansa sejarah Indonesia pada masa revolusi fisik dengan militer Belanda. Tak hanya itu saja, Peter juga memasukkan unsur tradisi budaya jawa berupa “rampokan” yang bermakna bertarung melawan macan. Pertarungan yang diadakan di alun-alun ini dianggap sebagai simbol melenyapkan kekuatan jahat. Aspek historis lain yang digambarkan illustrator Belanda ini adalah penggambaran beberapa gedung kuno dan bersejarah secara detil dan menarik. Beberapa bangunan kuno di Jakarta seperti stasiun Jakarta Kota, eks gedung bioskop Grand Cinema, dan lain-lain tak luput dari goresannya.  Padahal diantara gedung-gedung tersebut ada yang sudah berubah jadi gedung baru, hancur atau rusak parah.

Sejatinya proses kreatif ilustrasi Peter tidak jauh berbeda dengan seniman pemula lainnya termasuk seniman grafis Semarang. Hal ini bisa diamati dari goresan gambarnya dari tahun 1978 – 1982. Bahkan karya komiknya yang pertama “Diamanten Smokkel” yang dibuat tahun 1979 terkesan cukup sederhana dan masihh jauh dari kesan detil. Komikus Herge yang terkenal dengan karyanya Tin Tin(Kuifje dalam istilah Belanda) menginspirasi Peter dengan membuat goresan ala Herge pertama kali melalui Kuifje en de Alfa Kunst. Kemudian dilanjutkan dengan menerbitkan komiknya yang pertama kali berjudul Muizenteather (Teathre of Mice) tahun 1990. Ide membuat komik yang berlatar belakang Indonesia pada masa revolusi muncul saat dia membuka album foto-foto keluarganya yang ternyata keturunan Indonesia dan pernah tinggal lama di Ternate (Sulawesi) sebelum akhirnya harus kembali ke Belanda. Bahkan tokoh-tokohnya diambil dari nama paman dan orang-orang terdekatnya seperti Johan Knevel, Lisa, dan lainnya.

Selain sebagai komikus, Peter van Dongen juga illustrator novel Dover karya Gustav Peek dan Sang Juragan Teh karya Hella S. Haase (keduanya diterjemahkan dalam bahasa Indonsia).

Melalui cara yang khas ini, Peter ingin menyampaikan kepada pembacanya bahwa aspek sejarah termasuk peninggalannya merupakan informasi berharga yang harus disampaikan kepada generasi muda atau mereka yang tidak pernah mengenal peninggalan tersebut. Fakta inilah yang mendorong kami mengundang Peter van Dongen untuk mengisi workshop komik di Semarang. Acara yang diadakan pada 23 Oktober 2015 di Gramedia Balaikota ini diikuti dengan antusias oleh audien penggemar dan seniman grafis di Semarang. Maka dari itu tepat kiranya jika kami menyelengarakan acara ini sebagai wujud kepedulian terhadap warisan budaya bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *