Ironi Perdagangan Manusia dalam Novel DOVER

Diskusi dan Bedah Buku DOVER karya Gustaaf Peek

Penerjemah : Widjajanti Dharmowijono, Sri Sulihingtyas, Sri Zuliati, dll.

Senin, 27 Juli 2015  ; Jam : 10.00 wib di Ruang Rabu PMLP Unika Soegijapranata dan Jumat, 31 Juli 2015 : Jam : 19.00  wib ; di Widya Mitra.

pembahas 1

Novel Dover  sejatinya mengambarkan kasus human traficking yang marak akhir-akhir ini di berbagai negara termasuk Indonesia. Novel ini mengisahkan sosok Tony, pemuda yang lari ke Belanda akibat peristiwa huru-hara politik di Jakarta tahun 1998. Setiba disana, dia berstatus sebagai imigran yang mencari suaka ke negara ke tiga. Selama tinggal di Belanda, dia bekerja di restoran Cina milik Mr. Chow, belajar bahasa Belanda dari teks film, bersahabat dengan seorang loper koran asal Afrika, termasuk perjumpaannya dengan seorang pengacara bagi pencari suaka. Tujuan utama Tony adalah Inggris. Namun jalan hidupnya justru berakhir tragis. Bulan Juni tahun 2000, di pelabuhan Dover, Inggris. Petugas duane membuka peti kemas dari Belanda dan menemukan lima puluh delapan orang Cina yang sudah tak bernyawa. Hanya dua yang selamat.

Pada diskusi di Ruang Rabu PMLP UNIKA (27 Juli),  Suster Sundari, salah seorang peneliti women traficking, mengungkapkan bahwa kaum perempuan justru yang paling rentan menjadi korban. Kemiskinan dianggap salah satu penyebabnya. Biasanya mereka dijebak melalui lowongan kerja di luar negeri namun  sesampai di negara tujuan, para perempuan ini ditipu dan dipaksa bekerja di lingkungan prostitusi atau mendapat pekerjaan yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Ada pula modus lain yaitu pria asing menikahi wanita setempat lalu dibawa ke negara asalnya. Setelah menetap disana, wanita tersebut justru disia-siakan dan terpaksa bekerja secara ilegal. Tak hanya itu saja, ada beberapa kasus kaum perempuan terjebak dalam sindikat narkoba antar negara. Salah satu diantaranya adalah kasus Mary Jane dari Philipina. Mengingat rumitnya jaringan perdagangan manusia ini, menurut suster yang juga mahasiswa fakultas hukum Unika, sangatlah sulit untuk diberantas. Dia dan koleganya, pernah menggagalkan upaya ini meski harus menjemput korban sampai ke daerah Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Barat.

Sebelumnya diskusi diawali dengan pembacaan cuplikan beberapa naskah novel Dover oleh Ibu Widjajanti, Sri Sulihingtyas, dan Sri Zuliati. Mereka ini sekaligus juga penerjemah novel karya Gustaaf Peek tersebut. Menurut Ibu Widjajanti, pada awalnya cukup sulit menerjemahkan novel ini. Beliau dan timnya sempat berkonsultasi dengan sang penulis terkait dengan makna beberapa kalimat tertentu. Meski ini novel terjemahan, timnya tidak mengubah gaya berkisah dari sang penulis.

Sedangkan diskusi di Widya Mitra (31 Juli) menghadirkan suasana yang sangat menyentuh dan musikal. Diawali dengan pembacaan beberapa cuplikan naskah novel Dover yang diiringi dengan petikan gitar yang bernuansa syahdu dari Leonardo Bayu. Suasana ruangpun menjadi hening seolah menghadirkan kepiluan mereka yang telah menjadi korban tragedi dalam novel ini.

Asrida Ulinnuha,  mengungkapkan bahwa novel ini mengingatkannya pada salah satu kisah sosok yang pernah dijumpainya. Dengan mata berkaca-kaca dan menahan haru, translator freelancer ini mengisahkan sebuah tragedi yang menimpa seseorang. Novel Dover telah mengingatkan dirinya pada kisah tersebut. Audienpun terdiam sejenak mendengar kisahnya. Namun, Asrida juga berpedapat bahwa membaca novel ini seperti menonton sebuah film. Pembaca diajak mengikuti perjalanan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya seolah menebak peristiwa apa yang akan terjadi.

Berbeda dengan Asrida yang penuh penghayatan, Latree Manohara, salah seorang cerpenis dan pemusik puisi, mengatakan bahwa novel karya Gustaaf Peek ini agak sulit dicerna. Gaya bertuturnya cenderung melompat dari satu bagian ke bagian lain. Kesulitan ini sebenarnya bisa dimengerti jika pembaca tak paham latar belakang dan kejadian yang ditulis. Istilah “perdagangan manusia” itu sendiri tidak disebut Gustaaf Peek dalam novel ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *