Dari Jumping hingga Benang Merah

Screening dan Diskusi Film Twaalf Uur van Semarang

Jumat, 29 Mei 2015 ; Jam : 19.00 wib

Pembicara : Ragil Wijokongko (Sutradara) dan Khotibul Umam (Penulis Naskah)

Pembahas : Enggar Adibroto (Film Maker).

diskusi 1a

Setelah melakukan pemutaran di berbagai kota, akhirnya film Twaalf Uur van Semarang diputar di Widya Mitra. Namun acara malam itu juga disertai dengan diskusi yang menampilkan Ragil Wijokongko (Sutradara) dan Khotibul Umam (Penulis Naskah). Sebagai pembahas adalah Enggar Adibroto salah seorang film maker Semarang.

Twaalf Uur van Semarang merupakan film feature yang menggambarkan tentang latar belakang kota Semarang dengan berbagai keragamannya mulai jam 6 sore sampai 6 pagi. Ini sesuai dengan terjemahan judul film itu sendiri yaitu dua belas jam di Semarang. Film ini memuat empat cerita yang berbeda diantaranya: Makan, Kuli(ah), Kakeane, dan Ver van Huis. Keempat cerita tersebut memiliki benang merah satu sama lain. Film ini juga disajikan secara ringan dengan diwarnai guyonan dan kesenian khas Semarang, termasuk gedung-gedung bersejarah yang masih tersisa di tengah kota. Secara keseluruhan film yang berdurasi sekitar satu setengah jam ini  diselesaikan hanya dalam waktu empat bulan.

Singkatnya waktu pembuatan film ini dikritisi tersendiri oleh Enggar Adibroto. Biasanya film seperti ini membutuhkan waktu agak panjang mulai dari riset sampai post produksi. Di sisi lain, aspek pencahayaan pada beberapa adegan terkesan “jumping” atau tidak merata karena sebagian besar syuting dilakukan malam hari. Syuting malam hari, menurut Enggar, membutuhkan perlengkapan lighting dan sumber daya yang memadai. Tentu saja biayanya pasti tidak sedikit. Kisah empat cerita yang naskahnya ditulis Chatibul Umam ini, masih menurut Enggar belum menunjukkan benang merah. Satu sama lain masih berdiri sendiri. Diantara empat cerita tersebut hanya Ver van Huis yang adegannya cukup kuat bersentuhan dengan Semarang.

Meski ada beberapa kekurangan, film yang disutradarai Ragil Wijokkongko ini, dipuji teknik editingnya. Musiknyapun juga terasa pas untuk kalangan anak muda. Meski demikian, Enggar menekankan adanya tanggung jawab berkarya karena film ini akan ditonton dan dikenang generasi mendatang. Lebih dari itu, film ini diharapkan mampu mendorong sineas muda lainnya untuk terus memproduksi film terutama yang bernuansa warisan budaya. Semoga film karya komunitas Lopen ini mampu menjadi pemacu untuk terus berkarya.