Bedah Buku “Pecinan Semarang”

IMG_1852“Apakah orang Tionghoa hanya paham ilmu berdagang? Naga-naganya stereotipe etnis Tionghoa adalah sosok pekerja keras, lihai melipat uang, suka berhemat (atau kikir?). Sifat lain adalah pragmatis, sekuler namun menjunjung kekerabatan. Ideologinya tak jelas. Nasionalismenya, entah.

Meski pandangan tersebut tak salah benar, salah kaprah tentang orang Tionghoa terus berlangsung hingga kini. Persepsi ambigu tak hanya berasal dari luar, di kalangan internal pun muncul anggapan miring terhadap sesama. Hal itu membuktikan, etnis Tionghoa, tak terkecuali yang mukim di Pecinan Semarang, bukanlah entitas tunggal yang selaras satu sama lain.”

Dikutip dari buku Pecinan Semarang dan Dar-Der-Dor Kota karya Tubagus P. Svarajati.

Tubagus P. Svarajati lahir dan bermukim di Semarang. Setelah tamat dari SMAK Swastiastu, Denpasar, Bali kuliah melanjutkan kuliah di Akaba 17 Semarang. Minat utamanya pada kajian seni rupa, fotografi, dan kebudayaan pada umumnya. Dialah penggagas dan pendiri Mata Semarang Photography Club (1998). Pernah menjadi koresponden FOTO media (2000-2003) dan kontributor majalah NIKONIA (2005-2008). Pendiri sekaligus pengelola Rumah Seni Yaitu (2005-2010) ini turut mendirikan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang dan menjadi anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *