Bedah Buku Dan Kuliah Umum bersama Hilde Janssen

poster-acara-hilde-janssen-1eTANAH AIR BARU, INDONESIA
(Enkele reis Indonesié)

Karya Hilde Janssen
Desain cover: Peter van Dongen
Penerjemah: Meggy Soedjatmiko
Editor: Widjajanti Dharmowijono

“Itu temanku Annie dan Miny.”

Itulah yang dikatakan Dolly pada Hilde Janssen ketika Hilde menunjukkan selembar foto yang menampakkan dua wanita Belanda di kereta api Indonesia pada 1947.

Hilde diperkenalkan dengan Dolly, 85 tahun, pada akhir 2010 di Jakarta. Wajah wanita itu khas, hidungnya yang mancung menunjukkan ia keturunan Barat.

Dolly langsung mengenali kedua wanita di foto tersebut sebagai kakak-beradik Kobus. Ia sendiri ternyata ada di kereta api itu, juga Betsy, si sulung keluarga Kobus. Mereka berusia awal dua puluhan saat meninggalkan Rotterdam pada 1946 bersama para suami Indonesia mereka untuk menuju tanah air baru. Keempat wanita tersebut bagai melawan arus, saat itu mayoritas orang Belanda justru meninggalkan Indonesia.

Maka mereka pun tercebur ke dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Keempatnya berada di pihak Republik yang baru lahir itu, dengan setia mendukung Indonesia, juga selama tahun-tahun selanjutnya yang penuh pergolakan.

TANAH AIR BARU, INDONESIA merupakan kisah mereka.

Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata.

“Buku yang luar biasa. Intim secara konsep dan luas secara perspektif.”
(Adriaan van Dis, penulis Belanda)
Hilde Janssen adalah seorang jurnalis sekaligus antropolog lulusan Nijmegen Universiteit dengan spesialis ahli ekonomi feminis. Dari basis intelektualnya itu, membawa dirinya menjadi konsultan ahli jender pada saat permulaan tinggal di Indonesia pada tahun 1991−1993 di Bandung. Ia dan suaminya diminta “pindah” dari Indonesia pada tahun 1997, dikarenakan adanya pertentangan politik antara Belanda−Indonesia yang berakibat semua proyek kerjasama Indonesia−Belanda dihentikan. Namun akhirnya setelah rezim Soeharto, mereka berdua kembali “pulang kampung” ke Indonesia pada tahun 2000. Hingga tahun 2010 tinggal di Indonesia sebagai korensponden untuk koran Algemene Dagblad. Saat ini, penyuka masakan Indonesia khususnya jus mangga ini mengaku masih sangat mencintai tinggal di Indonesia, namun ia sudah harus meninggalkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *